Siapa sangka, di Surabaya ada pembuat mata palsu handal, apalagi yang bikin orang Perancis bernama Michel Silvano. Dulu, saya pernah mewancarainya, di kediaman daerah Sambikerep.
Pertama datang, Michel langsung keluar dengan senyum ramah dan uluran tangan untuk berjabat tangan tanda perkenalan. Bingung ngomongnya, kadang Bahasa Indonesia, seringnya malah speak Perancis. Untung ada temen, kebetulan dia yang mengenalkan saya pada Michel, sebagai penerjemah logat ucapan, andai saya tidak mengerti dengan omongannya.
Pembuatan mata palsu dilakukan di rumahnya, tapi jangan salah, begitu saya ke dalam, tempat kerja, nampak ruangan konsultasi serta di belakang ada laboratorium. Pintu harus ditutup rapat karena di dalam menggunakan AC.
Michel menyebutkan syarat untuk membuat mata palsu (protesa), harus ada AC, bersih dan minimal steril, terutama bagian lab, karena beberapa bahan memang harus dalam suhu tidak panas seperti di luar, rumah.
Protesa atau lensa penutup, dibutuhkan oleh mereka yang lahir tanpa mata sejak lahir seperti mikroftalmia atau kehilangan satu mata setelah operasi Eviserasi, Enukleasi atau Eksenterasi. Orang dengan mata jelek dan buta, perlu lensa penutup untuk menutupi kondisi matanya supaya terlihat normal.
Michel menyebutkan syarat untuk membuat mata palsu (protesa), harus ada AC, bersih dan minimal steril, terutama bagian lab, karena beberapa bahan memang harus dalam suhu tidak panas seperti di luar, rumah.
Protesa atau lensa penutup, dibutuhkan oleh mereka yang lahir tanpa mata sejak lahir seperti mikroftalmia atau kehilangan satu mata setelah operasi Eviserasi, Enukleasi atau Eksenterasi. Orang dengan mata jelek dan buta, perlu lensa penutup untuk menutupi kondisi matanya supaya terlihat normal.
Michel, yang menikah dengan orang Indonesia, lahir 12 Maret 1970, merupakan tenaga ahli okularis lulusan Universitas Kedokteran, Bordeaux Perancis. Sudah lama menekuni bidang ini sekitar sepuluh tahun lebih. Dan, baru tahun 2008, Ia mendirikan CV Abadi sebagai badan usaha pembuat mata palsu.
Oh iya, Okularis adalah orang yang bertanggung jawab dan berkewajiban untuk membuat protesa mata yang Biokompatibel. Dalam proses pembuatan, Michel menggunakan bahan khusus dari Eropa dan Amerika Serikat, sesuai standarisasi kesehatan. Selain itu, Michel juga punya mesin dekontaminasi untuk mensterilkan protesa mata, dengan demikian kehigienisan-nya terjaga.
Michel juga berani menjamin, kualitas protes buatannya bisa disamakan dengan produk buatan Singapura atau Perancis. namun harga bisa jauh di bawah kedua negara tersebut.
Lantas, protesa yang ideal itu seperti apa? Michel menjelaskan, ketika membuat mata palus, kriteria pertama harus sempurna, nyaman dipakai, tidak perlu dilepas, tidak ada cairan, hasil optimal seperti aslinya sehingga orang lain tidak tahu sedang pakai mata buatan.
Contact Lens Besar Bukan Buatan Pabrik Tidak Perlu Operasi.
Selanjutnya, dijelaskan, contact lens besar adalah sebuah protesa mata tetapi lebih tipis, untuk orang yang masih memiliki bola mata tetapi kondisinya buta dan jelek
Fungsinya untuk menutupi kondisi mata tersebut supaya terlihat normal. Memakai contact lens besar tidak perlu operasi, lensa di buat sesuai ukuran, nyaman, ringan, bio-compatible, hasil esthetiknya sempurna, bisa melirik sehingga tidak bisa di bedakan dengan mata yang asli.
Ngomong soal protesa seakan tidak ada habisnya. Michel Silvano, pembuat mata palsu, sempat berujar soal protesa mata buatan yang di buat made in pabrik. Tenang itu bukan di sini melainkan di temui Michel saat berada di India.
'' Masa, mata-mata buatan yang nantinya di pasang pada tubuh manusia, ngambilnya dalam karung. Sambil bilang, mau pilih yang mana, silahkan-silahkan, ini gila. Hal semacam ini yang bikin takut pasien'', ujar Michel.
Ada juga pasien yang menyebutkan takut pasang lensa penutup/contact lens besar, karena dokter menganjurkan sebelum pasang lensa harus operasi terlebih dahulu.
''Padahal medis di negara saya serta penjelasan lengkap dalam ''Ensiclopedia Medico-chirugicale'' menyebutkan pasien tidak perlu di operasi sebelum di pasang lensa jika tidak ada keluhan sakit atau peradangan yang sistematis. Lah, mau operasi sudah mahal apalagi pasang lensa'', tuturnya.
Untuk membuat satu protesa mata/ lensa di butuhkan waktu 2-3 hari. '' Ada juga yang bikin dalam waktu 1 minggu atau kurang. Padahal menurut rekan dokter di Perancis, okularis bisa bikin dua protesa/lensa dalam waktu satu minggu sudah bagus,'' tambahnya.
Protesa Bersubsidi Bagi Klien Tidak Mampu
Nah, ini bagian yang paling ditunggu-tunggu, kualitas boleh sama dengan Singapura serta Perancis, tapi itu artinya Michel tidak serta merta dengan keterampilannya harus nguber duit melulu. Michel punya program yang dinamakan Protesa bersubsidi. Ditujukan bagi klien tidak mampu, mereka tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis, baik ongkos maupun bahan.
"Yah, namanya bekerja di bidang kesehatan ada kaitannya dengan sisi kemanusiaan, harus ada sisi obyektif yang kita prioritaskan. Kita harus berbuat baik pada sesama. Mereka senang karena bisa memakai protesa selamanya tanpa harus keluar biaya lagi," ujar Michel.
Dan, itu terbukti pada salah satu klien (meski gratis, Michel tetap memanggilnya klien). Seorang pemuda, lajang, salah satu mata mengalami kerusakan sehingga minder untuk bersosialisasi keluar rumah, jodoh pun seperti enggan mendekat. Begitu datang ke Sambikerep dan dibuatkan protesa, si pemuda tersebut akhirnya percaya diri untuk keluar dan berkenalan dengan lawan jenis.
"Ketika protes sudah terpasang, pemuda tersebut datang kerumah dan menceritakan semuanya. Bagi saya ada kepuasan, bisa menolong sesama," pungkasnya.
Oh iya, Okularis adalah orang yang bertanggung jawab dan berkewajiban untuk membuat protesa mata yang Biokompatibel. Dalam proses pembuatan, Michel menggunakan bahan khusus dari Eropa dan Amerika Serikat, sesuai standarisasi kesehatan. Selain itu, Michel juga punya mesin dekontaminasi untuk mensterilkan protesa mata, dengan demikian kehigienisan-nya terjaga.
Michel juga berani menjamin, kualitas protes buatannya bisa disamakan dengan produk buatan Singapura atau Perancis. namun harga bisa jauh di bawah kedua negara tersebut.
Lantas, protesa yang ideal itu seperti apa? Michel menjelaskan, ketika membuat mata palus, kriteria pertama harus sempurna, nyaman dipakai, tidak perlu dilepas, tidak ada cairan, hasil optimal seperti aslinya sehingga orang lain tidak tahu sedang pakai mata buatan.
Contact Lens Besar Bukan Buatan Pabrik Tidak Perlu Operasi. Selanjutnya, dijelaskan, contact lens besar adalah sebuah protesa mata tetapi lebih tipis, untuk orang yang masih memiliki bola mata tetapi kondisinya buta dan jelek
Fungsinya untuk menutupi kondisi mata tersebut supaya terlihat normal. Memakai contact lens besar tidak perlu operasi, lensa di buat sesuai ukuran, nyaman, ringan, bio-compatible, hasil esthetiknya sempurna, bisa melirik sehingga tidak bisa di bedakan dengan mata yang asli.
Ngomong soal protesa seakan tidak ada habisnya. Michel Silvano, pembuat mata palsu, sempat berujar soal protesa mata buatan yang di buat made in pabrik. Tenang itu bukan di sini melainkan di temui Michel saat berada di India.
'' Masa, mata-mata buatan yang nantinya di pasang pada tubuh manusia, ngambilnya dalam karung. Sambil bilang, mau pilih yang mana, silahkan-silahkan, ini gila. Hal semacam ini yang bikin takut pasien'', ujar Michel.
Ada juga pasien yang menyebutkan takut pasang lensa penutup/contact lens besar, karena dokter menganjurkan sebelum pasang lensa harus operasi terlebih dahulu.
''Padahal medis di negara saya serta penjelasan lengkap dalam ''Ensiclopedia Medico-chirugicale'' menyebutkan pasien tidak perlu di operasi sebelum di pasang lensa jika tidak ada keluhan sakit atau peradangan yang sistematis. Lah, mau operasi sudah mahal apalagi pasang lensa'', tuturnya.
Untuk membuat satu protesa mata/ lensa di butuhkan waktu 2-3 hari. '' Ada juga yang bikin dalam waktu 1 minggu atau kurang. Padahal menurut rekan dokter di Perancis, okularis bisa bikin dua protesa/lensa dalam waktu satu minggu sudah bagus,'' tambahnya.
Protesa Bersubsidi Bagi Klien Tidak Mampu
Nah, ini bagian yang paling ditunggu-tunggu, kualitas boleh sama dengan Singapura serta Perancis, tapi itu artinya Michel tidak serta merta dengan keterampilannya harus nguber duit melulu. Michel punya program yang dinamakan Protesa bersubsidi. Ditujukan bagi klien tidak mampu, mereka tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis, baik ongkos maupun bahan. "Yah, namanya bekerja di bidang kesehatan ada kaitannya dengan sisi kemanusiaan, harus ada sisi obyektif yang kita prioritaskan. Kita harus berbuat baik pada sesama. Mereka senang karena bisa memakai protesa selamanya tanpa harus keluar biaya lagi," ujar Michel.
Dan, itu terbukti pada salah satu klien (meski gratis, Michel tetap memanggilnya klien). Seorang pemuda, lajang, salah satu mata mengalami kerusakan sehingga minder untuk bersosialisasi keluar rumah, jodoh pun seperti enggan mendekat. Begitu datang ke Sambikerep dan dibuatkan protesa, si pemuda tersebut akhirnya percaya diri untuk keluar dan berkenalan dengan lawan jenis.
"Ketika protes sudah terpasang, pemuda tersebut datang kerumah dan menceritakan semuanya. Bagi saya ada kepuasan, bisa menolong sesama," pungkasnya.



